Karya
Artikel
Senin, 07 September 2020, 22:20:06 wita

Zainal Mutaqin, Jangan-Jangan Kita Hewan

Share on Google+
Zainal Mutaqin, warga Tanah Laut yang saat ini menjadi mahasiswa jurusan Akidah Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri Maulana Hasanuddin Banten, Senin (07/09/2020)
Zainal Mutaqin, warga Tanah Laut yang saat ini menjadi mahasiswa jurusan Akidah Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri Maulana Hasanuddin Banten, Senin (07/09/2020)

PELAIHARI POST 電Zainal Mutaqin, warga Tanah Laut yang saat ini menjadi mahasiswa jurusan Akidah Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri Maulana Hasanuddin Banten menuliskan opininya dalam bentuk artikel berjudul Jangan-jangan kita hewan, sebagai berikut

JANGAN-JANGAN KITA HEWAN

“Manusia dan hewan jelas bedalah...!”

“Penulisnya sesat ini...”

Mungkin itu yang terbesit dalam hati para pembaca yang melihat judul ini.

Kalian yang membaca judul tulisan saya ini jangan dulu emosi ya, ungkapan seperti itu mungkin masih asing bagi segelintir pembaca. Tapi...

Pernahkan kita berpikir untuk apa manusia diciptakan?

Pernahkan terbesit pertanyaan pada diri kita apa fungsi kita (manusia) sebenarnya?

Karena kita makan begitu pula hewan, kita tidur hewan juga tidur, kita mandi hewan juga mandi, lalu apa yang membedakan kita dengan hewan? Mungkin jawaban termudahnya akal, yaitu berpikir, jadi apabila manusia tidak menggunakan akal pikirannya dengan baik, lalu apa bedanya dengan hewan?. Ungkapan ini dikemukakan oleh salah satu Filsuf Yunani terkemuka, Aristoteles. Hal ini juga senada dengan apa yang ada di Al-Qur’an :

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari Jin dan Manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alllah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Q.S Al-A’raaf: 179)

Akal, satu anugerah yang luar biasa dari Tuhan, yang cenderung masih banyak orang yang tidak mensyukuri nikmat itu. Akal adalah sarana untuk berpikir, dan memahami kebenaran mutlak dari Allah, umumnya kalimat yang digunakan adalah Afala ta’qilun (Tidakkah kamu berpikir/memikirkannya), seperti pada surat Al-Baqarah ayat 44 yang artinya:

”Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakannya) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”

Kembali kepada pertanyaan awal tadi, segala sesuatu didunia diciptakan memiliki fungsinya, pisau terbuat dari besi, besi yang kemudian dipipihkan lalu di buat tajam sisi dan ujungnya, maka ia layak disebut pisau, jika tidak pipih dan tajam, tentu tidak disebut pisau, lalu bagaimana dengan manusia, apa yang sebenarnya dapat menjadikan kita layak disebut manusia? Apakah kita sudah mencapai menjadi manusia? Atau malah masih di level rendah untuk layak disebut manusia?

Mungkin jika kita semua sudah menjadi manusia, tentu tidak akan ada orang-orang yang susah mencari makan, jika kita semua adalah manusia, tidak akan ada perselisihan individu, kelompok, bahkan agama. Jika kita benar sudah menjadi manusia tak akan ada pengangguran, tak akan ada gelandangan, tak akan ada kemiskinan.

Bagaimana kita bisa disebut manusia? jika orang lain membuat kesal, tangan kita langsung mengepal

Bagaimana kita layak disebut manusia? Jika sedikit berbeda opini, malah menjawab dengan caci maki

Bagaimana kita layak disebut manusia? Jika persaudaraan hilang, hanya karena urusan uang

Bagaimana kita menjadi manusia? Jika kebaikan kita hanya untuk golongan yang sama dengan kita

Bagaimana kita menjadi manusia? Jika berbeda pendapat, malah langsung dicap sesat

Share on Google+
Tag
Artikel
Agama
Manusia
Hewan
Mahasiswa