Kesehatan
Demam Berdarah
Senin, 13 Januari 2020, 23:20:48 wita

Adanya Kasus Pasien yang Alami Gejala Mirip Penderita DBD di Tanah Laut, Tidak Serta-Merta DBD

Share on Google+
Kepala Dinas Kesehatan Tanah Laut, Nina Sandra  (berkerudung coklat, sedang berbicara menggunakan mic) pada Rapat Kerja dengan Komisi II DPRD Tanah Laut, Senin (13/01/2020)
Kepala Dinas Kesehatan Tanah Laut, Nina Sandra (berkerudung coklat, sedang berbicara menggunakan mic) pada Rapat Kerja dengan Komisi II DPRD Tanah Laut, Senin (13/01/2020)

PELAIHARI POST 電Pada bulan Januari 2020 ini, Di Tanah Laut ada banyak kasus pasien mengalami gejala yang mirip dengan gejala pada penderita DBD seperti demam maupun diare, namun hal demikian tidak serta-merta pasien tersebut terjangkit DBD. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Tanah laut pada Rapat Kerja dengan Komisi II DPRD Tanah Laut yang juga dihadiri Direktur RSUD dan Kepala Puskesmas di wilayah Tanah Laut, Senin (13/01/2020) yang dilaksanakan di Gedung Paripurna DPRD. Rapat dipimpin oleh Ketua Komisi II, Edi Porwanto.

Kepala Dinas Kesehatan Tanah Laut, Nina Sandra menyampaikan pada Desember 2019 tidak ada laporan dari pihak Puskesmas adanya pasien dengan kasus Demam Berdarah (DBD). Di Januari 2020 ada banyak kasus pasien yang mirip gejala DBB seperti demam, diare.

"Namun tidak serta-merta pasien yang diare atau demam dipastikan terjangkit DBD. Bisa juga diare disebabkan salah pola makan atau juga demam diakibatkan oleh virus lain. Memang ada beberapa juga pasien yang positif terkena DBD. Dan sudah dilakukan fogging di daerah pasien DBD tersebut, misalnya di daerah Ketapang," jelasnya.

Terkait mengenai Pengasapan atau fogging, dijelaskan oleh Kadinkes, bukan tindakan utama dalam pencegahan wabah demam berdarah.

"Pada umumnya pemahaman masyarakat mencegah DBD dengan dilakukan fogging. Padahal Fogging sebenarnya bisa termasuk tindakan berbahaya. Seperti pada tahun 2019 ada dua orang petugas fogging dari Diskes Tala yang mengalami keracunan. Mereka sudah menggunakan peralatan keselamatan kerja standar." Tutur Sandra.

Gerakan 3M (menguras, menutup, mengubur) pencegahan DBD ataupun kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan, ucap Kadinkes, bisa dilakukan masyarakat di tingkat RT setempat. Pembersihan sarang nyamuk dan pencegahan berkembang biaknya jentik nyamuk itulah hal utama dalam pencegahan DBD.

"Tindakan fooging bisa dilaksanakan setelah ada pasien yang positif dinyatakan oleh dokter menderita DBD. Survey ke tempat tinggal pasien dan setidaknya ke 20 rumah sekitar. Kegiatan fogging dilakukan dua kali, akan diulang seminggu kemudian untuk antisipasi lebih lanjut," ucapnya.

Disamping itu dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan bahwa fogging yang dilakukan oleh Diskes Tanah Laut selama ini gratis. Tidak ada pungutan sama sekali.

"Jika ada orang yang menggunakan baju seperti seragam atau membawa surat seperti resmi dari Didkes melakukan pungutan. Itu bukan dari Diskes Tanah Laut. Kita juga tidak tahu jenis racun yang mereka gunakan untuk fogging," tegasnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi II DPRD Tanah Laut Edi Porwanto menyarankan ke Diskes Tanah Laut agar lebih gencar lagi melakukan sosialisasi ke warga menghadapi musim penghujan yang rawan kasus DBD.

Ketua Komisi II DPRD Tanah Laut dalam kesempatan Rapat Kerja itu juga menyinggung adanaya produk Dinkes Tanah Laut yang lainnya yang kurang sosialisasi misalnya PSC 119.

"Sosialisasi bisa dilakukan dimana saja, kapan saja. Saat reses kemaren saya sampaikan PSC 119. Masih banyak masyarakat yang belum tahu," kata Edi. Wad

Share on Google+
Tag
Demam Berdarah
Hujan
Fogging
puskesmas
RSUD